Through The Day Part 2

Rate this post:
{[['']]}
Selamat datang di artikel yang berjudul "Through The Day Part 2" selamat membaca, dan jangan lupa untuk memberikan komentar anda di kolom yang sudah saya siapkan. Terima Kasih (◕‿◕)  
Hi guys, sekarang aku akan membahas tentang "Through The Day Part 2" yang ceritanya tentang alasan ke2 para pemuda yang masih saja bersantai-santai. Alasannya adalah "karena belum dewasa, dan kebutuhan masih di tnggung orang tua." Penasaran? Langsung saja ke TKP!!! *bagi yang belum membaca Par 1nya, silahkan klik di sini)

Okay, banyak anak muda yang tidak mau bangkit yang salah satu alasannya adalah karena belum dewasa dan kebutuhan masih ditanggung orang tua.
Iya sih itu benar. Kalau kebutuhan kita masih ditanggung orang tua kita.

Tapi, fakta membuktikan! Bahwa anak yang terlalu dimanjakan oleh orang tuanya, dan selalu mengandalkan keuangan orang tuanya, kemungkinan untuk sukses jauh lebih kecil di bandingkan orang miskin yang mau berusaha! Percaya ga nih?

Banyak anak yang terlalu di manja dan selalu mengandalkan uang orang tua, membuat si anak itu menjadi anak yang pemalas, anak yang tidak tahu susah, anak yang marah jika keinginannya tidak dikabuli, anak yang tidak tahu keadaan orang tuanya, dan lain-lain.
Mau tahu mengapa bisa seperti itu?
  1. Anak yang terlalu di manja dan selalu mengandalkan uang orang tuanya membuat dia menjadi anak yang tidak mau berusaha. Contohnya, dia tidak mau belajar dsb dan misal ditanya, ga takuk kalau tidak naik? Dia jawabnya, "ah tinggal sumpel aja gurunya pakai uang. Jadi naik kan" Ya kan? Hehe
  2. Anak itu pun bisa menjadi anak yang tidak tahu susah. Contohnya misal terdapat sebuah keluarga yang sangat kaya dan anaknya terlalu di manja dan menjadi anak yang tidak tahu susah, seketika keluarga tersebut jatuh miskin, si anak akan tetap menjadi anak yang manja, dan menuntut ini dan itu. Padahal orang tuanya sudah tidak kaya seperti dulu. Ya tidak?
  3. Anak itu bisa menjadi anak yang pemberontak atau marah jika keinginannya tidak dikabuli. Contohnya, terdapat keluarga yang ekonominya standar namun terlalu memanjakan anaknya, dan seperti saat datangnya HP BlackBerry, dia melihat temannya sudah banyak yang punya, ia menuntut orang tuanya untuk membelikan HP itu untuknya. Itu kan sama saja membebani orang tua kita.
  4. DLL
Namun bagi anak muda yang mau tahu susah, walau keluarganya berada, dia tetap mau berusaha menjadi anak yang bisa sukses semenjak usianya muda, itu membuat dia bangkit dan merubah pola pikirnya sehingga dia mau berusaha sebaik mungkin, dan tidak pernah membuang-buang waktu hanya untuk melakukan hal yang tidak penting.

Guys, menjadi anak yang tahu susah itu tidak salah. Bahkan bisa membantu kita dalam menjalani hidup. Jangan menjadi anak yang manja atau selalu mengandalkan uang orang tua kita. Orang tua kita akan bangga jika kita bisa berpikir secara matang layaknya orang dewasa, dalam artian bisa membagi waktu, memilah mana yang harus di dahulukan, mana yang penting dan mana yang tidak penting, dll yang membuat kita sadar jika mencari uang itu tidaklah mudah. Menjadi orang yang sukses itu tidaklah mudah. Butuh sebuah perjuangan! Jangan kalian anggap jika orang tua yang sukses, selalu menjamin anaknya akan sukses juga. Itu salah besar! Mau orang tuanya sukses pun, jika anaknya tidak tahu susah dan selalu menuntut, dia tidak akan bisa berpikir secara matang-matang yang membuatkan akan jatuh dan tidak akan melanjutkan kesuksesan keluarganya.
Namun dia, seorang anak yang keluarganya miskin, namun dia mau berusaha, akan membuat dirinya menjadi anak yang sukses di masa yang akan datang!

Jadi intinya, kita jangan selalu mengandalkan uang orang tua kita, jangan menjadi anak yang manja, dan kita harus tahu susah untuk menjalani hari demi hari di saat kita menjadi orang yang sukses di masa depan.

"Jika kamu ingin tahu bagaimana enaknya menjalani hidup, maka di situ juga kamu harus tahu terlebih dahulu, bagaimana susahnya menjalani hidupmu sendiri!"

*artikel saya bukan untuk menyindir atau apapun itu, namun sebagai pelajaran bagi kita untuk membuka pikiran kita aga bisa menjadi anak yang lebih dewasa dalam mengambil sebuah keputusan*