Mom Is My...

Rate this post:
{[['']]}
Sebenernya ini adalah cerpen untuk lomba di sekolah.Tapi karena lombanya dibatalkan, daripada tidak terpakai, lebih baik aku share di sini saja. Silahkan di baca ^^



Suatu hari setelah bangun dari tidur siang dan belum cuci muka yah berarti muka masih dihiasi oleh putih-putih, dan otak belum 100% konek, aku keluar rumah tiba-tiba dengan kagetnya Kenny datang dan menepuk pundakku hingga aku hampir terjatuh.
“Aduuhh!”
“Heh!”
“Ih gila lu ya! Dateng-dateng mukul, terus bukannya minta maaf malah marah-marah!”
“Gue mau cerita nih!”
“Cerita apa?”
“Ih Gue kesel banget sama ibu gue dari kemarin. Sumpah emosi lah!” ujar Kenny dengan nada yang nyeletuk.
“Heh apa hak lu buat marah? Lu mikir ga apa yang lu lakuin?” ucap gue dengan nada yang lembut. “Lu pikir coba, apa-apa gue dilarang. Disuruh-suruh pula. Masa gue main ga boleh, apa-apa ga boleh. Gue juga kan udah besar, masa masih di pantau kayak anak kecil gini?!”
“Ibu lu kayak gitu bukan tanpa sebab. Sekarang lu pikir zaman sekarang kaak apa? Ibu lu itu takut lu ke jalan yang ga bener. Coba lu pikir dulu dong baru ngomong!” ucapku dengan nada yang cukup menyentak.
“Ih tapi ga usah lebay gitu atuh!”
“Heh! Lu anak satu-satunya kan? Lu itu satu-satunya investasi keluarga lu untuk membanggakan keluarga lu. Kalau lu sampai ke jalan yang ga bener, mau gimana? Orang tua lu pasti kecewa sama apa yang sudah lu lakuin!” ucap gue untuk menyadarkan dia. Namun bukannya sadar, ia hanya diam lalu pergi entah kemana. Entah mengapa ia hanya diam.
Esok harinya disaat aku sedang belanja untuk keperluan warung keluarga, ia datang lagi dan dengan muka kesal mengetuk pintu rumah, namun ibuku yang membukakan pintu itu. Karena tidak mungkin memasang muka jelek di depan ibuku, iapun langsung tersenyum sja.
“Tante, Kevinnya ada?” tanyanya kepada Ibuku.
“Ooh Kevinnya sedang belanja untuk warung tuh nak Kenny. Memangnya ada apa? Silahkan masuk dulu. Tunggu di dalam.” Ibuku membukakan pintu untuknya.
“Oh tidak apa-apa tante. Hanya ingin bermain. Oh iya tante terima kasih.” Ia pun masuk ke dalam rumah.
Setelah menunggu sekitar setengah jam, aku pun datang dengan motor mioku dengan membawa belanjaan yang cukup banyak hingga membuatku sulit berhenti.
Memang aku termasuk anak SMA yang cukup jarang main, karena aku disibukkan dengan tugas, membantu untuk belanja, dan ngelesin matematika untuk beberapa murid. Yaa lumayanlah menambah uang saku dan untuk menabung.
“Maaahhh.” teriakku agar Ibuku keluar dan membantu untuk mengangkat sebagian barang. Yaa karena aku tidak bisa keluar, karena barangnya cukup banyak. Namun ternyata yang keluar adalah Kenny.
“Lohh ko lu ada di sini?” tanya gue.
“Ga apa-apa gue mau cerita lagi.” Jawabnya sambil membantu untuk mengangkat barang-barang.
“Eh tidak usah repot-repot nak Kenny.” Ucap ibuku sambil ikut membantu.
“Oh tidak apa-apa kok tante.” Jawabnya.
Dan kami bertiga mengangkat barang-barang hingga selesai. “Oh ya, tadi lu mau cerita apa Kenn?” tanya gue.
“Yaah tentang ibu gue nyeramahin lagi setelah gue tadi pulang dari kumpul bareng yang lain.”
“Yah itu lagi. Pasti punya maksud lain lah.”
“Tapi kayak yang ngekang gue banget tau!” potongnya sebelum aku selesai ngomong.
“Sekarang gini. Di China, gue lupa tepatnya tahun berapa, ada seorang ibu yang punya tiga anak. Namun ia udah ga punya suami. Karena sangat miskin, 2 anaknya yang besar terkena penyakit busung lapar. Dan hanya anaknya yang masih balitalah yang tidak sakit.”
“Terus?” potongnya.
“Suatu hari, anaknya yang kecil itu sakit. Karena ia tidak mau anaknya yang terakhir itu sakit juga ia memaksakan diri untuk pergi ke puskesmas dekat rumahnya dengan harapan dokter itu bisa memberi belas kasihan dengan memberikan obat gratis untuk anaknya. Setelah ke dokter tersebut, dokter itu mengatakan bahwa anaknya kekurangan lemak karena jarang sekali diberi makan daging. Saat itu pula ia pulang dan menangis tersedu-sedu.”
“Nangis kenapa? Tanyanya
“Ya karena harapan ia satu-satunya pun akan mengalami hal yang serupa dengan kakak-kakaknya.”
“Terus gimana?” ia pun penasaran.
“Akhirnya tidak ada pilihan lain. Ia pergi ke dapur dan merebus sebuah kain lap hingga mendidih. Setelah mendidih, ia pun mengambil kain itu dan sambil menangis ia menaruh kain lap panas itu di atas pahanya sebagai pembius alami. Lalu ia mengambil pisau, dan ia potong daging pahanya sambil menagis dan teriak.”
“Wah??!! Terus gimana??” tanyanya sambil ia merinding memegang pahanya.
“Ia memasak dagingnya itu, dan memberikannya untuk anak-anaknya. Anak-anaknya pun gembira melihat ibunya bisa memasak daging. Mereka bertanya, dari mana daging itu? Sedangkan mereka tahu bahwa ibunya tidak punya uang. Ibunya menjawab, itu anugrah Tuhan nak.”
“Aduh sumpah serem. Tapi masa sampai segitunya sih?” Serunya.
“ya memang serem. Itulah pengorbanan seorang Ibu. Ia taruhkan nyawanya untuk kehidupan kita, agar kita bisa menjadi kebanggaannya.”
“Iya ya. Hmmm”
“Sekarang aku tanya, yang tahu pertama kita liat saat kita lahir itu siapa? Ibu kan? Di saat kita belajar berbicara, apa kata-kata pertama yang bisa kita ucapkan? Pasti mama. Jarang sekali yang namanya kita berkata Papa, kakak, tante dan sebagainya. Pasti MAMA. Yang pertama kali mengajarkan kita untuk berjalan, dan di saat kita menjadi anak yang tidak tahu terima kasih, betapa kasihannya Ibu kita.” Nasihatku.
“Oh iya ya. Thanks ya Vin. Sumpah gue sadar denger itu semua. Pantes aja lu jarang main dan lain-lain demi bisa menjadi yang terbaik buat ibu lu. Thanks buddy.” Ucapnya.
“Iya sama-sama. So, mending lu datengin ibu lu, bilang kalau lu mau minta maaf atas semuanya. Toh kan lu cuma satu-satunya harapannya. Lu tuh investasi terbesar keluarga. Kalau enggak, kenapa juga ibu lu mau mendidik lu di sekolah ternama, ngasih fasilitas yang lebih, gadget yang canggih dan lain-lain.”
“Iya bro makasih banget yo!
Dan aku pun berkata iya sama-sama, lalu ia pergi karena suatu hal. Hmm aku lega mendengar itu semua. Tapi itu semua benar. Tanpa sesosok wanita yang sangat dewasa yang kita sebut dengan Ibu, kita tidak akan menjadi apa-apa. Toh di saat kita menjadi orang yang sukses, Ibu kita hanya mendapatkan ucapan kata BANGGA dari orang lain, dan pasti yang merasakan kesuksesan kita nanti pun hanya keluarga kita yang baru dan anak-anak kita nanti.
Memang aku pun terkadang masih melawan dan lain-lain. Namun setelah memberi arahan ke Kenny, itu pun sebagai pelajaran untukku, untuk menjadi anak yang tahu diri. Karena kehidupan kita ini pun adalah separuh dari kehidupan Ibu kita yag telah merawat kita. Dan apa jadinya Ibu kita disaat kita melawannya, dan tidak menjadi apa-apa.
Hmm so, “MOM IS MY LIFE!”
-THE END-