Surat Tak Bertuan.

Rate this post:
{[['']]}



Dia lagi, dan hujan.
Dan juga gelas plastik kopi itu yang ia genggam, selalu, membuat pemandangan itu menjadi sempurna yang terlalu. Rahangnya yang kokoh, sosok nya yang jangkung, parasnya yang tampan, sosok yang supel dan ramah, dan kami selalu bertukar ilmu tentang buku, ya, karena ia selalu datang ke sini, ke perpustakaan dimana tempat ku bekerja paruh waktu, tepat, karena ia selalu membaca di sini.
Ia memasuki perpustakaan ini setelah mengelap sebagian bajunya yang sedikit terbanjur air hujan.
“Hallo Nata, masih mau menunggu hujan reda di seberang sana? Mengapa kamu nggak masuk saja ke dalam sini? Tempat ini bersih, dan satu yang pasti, disini ngga tertimpa air hujan itu.” Sungutku menyerocos semangat saat Nata masuk. Aku tersenyum lebar. Nata mendongak.
“eh, hai Luna. Apa? Oh... Aku ngga ingin mengotori tempat ini dengan kopi-ku, aku akan menunggu hujan dan teman-temannya reda dahulu ditemani kopi tadi, baru aku membaca di sini. Cukup?” jawabnya disertai senyumannya yang menawan. Aku pun tertawa kecil lalu ia menerobos masuk di depanku, menuju rak buku bagian filosofi dan duduk-dengan sempurna, di antara kubikel-kubikel yang penuh oleh atmosfir aura nya itu.
Mulailah aku menulis surat itu. Surat rahasia untukmu, dimana aku bercerita kepada buku-buku di rak sana, kepada detik jam yang berdetak perlahan-lahan, dan kepada kertas yang setia menjadi wadah rasa-ku agar kata-kata ini tak berlarian dengan lihai-nya dan juga kepada pena yang senantiasa ku ajak menari-nari dengan lincah di atas kertas, menorehkan kata demi kata, yang aku harap kau tau apa isinya.
Hujan itu membawa sempurna. Aku harap, momen tadi tak pernah berevolusi. Namun, jam dinding tak kuasa membantah hukum Tuhan, setiap detiknya bergerak, berotasi. Apa daya, aku pun pasrah. Namun, terima kasih Tuhan, rintik hujan-Mu, sosok Nata, segelas kopi, semuanya menyisakan magis yang membuat aku jatuh hati pada nya.”
Aku lipat surat itu. Aku taruh di kotak kecil, di kanan ujung pojok rak buku referensi yang jarang dijamah oleh orang-orang. Sudah berapa surat yang ku tulis semenjak kau datang, Nata? Ah, sudahlah, aku senang membuat surat-surat itu. Walaupun kau tak pernah tahu kata-kata apa yang aku bagi dengan kertas dan pena yang selalu menjadi temanku. Kadang, aku iri kepada buku-buku itu. Yang kau datangi setiap hari, kau lihat, kau genggam dengan jemarimu, ah... sudahlah.
“Kenapa kamu suka kopi, Nata?” saat ku tanya esok hari nya dengan tiba-tiba saat merapihkan buku dan Nata disebelahku, memilih buku untuk ia baca-lagi.
“menurutmu? Aku juga suka Hujan.” Jawabnya asal.
“Kok malah balik bertanya? Ah, hujan. Omong-omong tentang Hujan, aku juga suka, lho Nata. Juga dengan teman-temannya, Senja dan Bintang. Tuhan itu selalu membuat kita jatuh cinta dengan ciptaan-Nya, ya?”
Nata bergeming. Mendadak suasana sepi. Buku-buku itu pun seperti menyaksikan perbincangan kami-dengan seksama. Nata melanjutkan, “Itu pasti. Segala sesuatu yang diciptakan Tuhan itu pasti mempunyai sisi sempurna, yang membuat kita jatuh cinta dengan telak.” Tukasnya sigap lalu tersenyum. Aku mengangguk dan tersipu, senyumnya itu adalah candu yang memberi efek memabukkan, sempurna.
“oh iya Luna,” Nata berdeham, “apa kamu nggak bosan terus menerus menjaga perpustakaan ini? Mengurus data para peminjam, merapihkan buku-buku dan kursi-kursi, mengapa kamu nggak sekali-kali ikut serta bersama ku membaca di antara kubikel-kubikel itu? Ayolah, aku baru membeli buku dongeng klasik, kau suka kan? Ayo!”
Lalu dengan perlahan, Nata menarik lembut lenganku, menuju kubikel-kubikel. Tak membiarkan ku menjawab satu pun pertanyaan yang ia ajukan. Aku hanya tersenyum dan kubikel-kubikel itu seakan memberi salam selamat datang dengan senyum yang merekah.
Kami membaca. Duduk dalam diam dan menyelami kata-per-kata dengan fikiran masing-masing, lalu Nata membisikkan sesuatu yang lucu di telingaku. Kami berdua tertawa kecil, seperti kedua anak kecil saat tertawa di kelas saat pelajaran tengah berlangsung. Aku tertawa ke arah nya, begitu pun dia.
Aku menulis surat lagi setelah kami membaca, lalu, kami pulang bersama menuju rumah masing-masing, ditemani senja.
Tertawa bersama nya membuktikan bahagia itu sederhana. Tuhan, andai momen ini seperti fosil, menyisakan ruang dan sejarah yang terpatri. Namun segala sesuatu akan ikut terkikis setiap detiknya, mau ataupun tidak. Aku hanya ingin terus seperti ini, namun aku tahu, skenario-Mu terus bergulir, menggoreskan kenangan dan memori. Untuk hari ini, Terima Kasih, Tuhan.”
Esoknya, seperti kertas yang begitu rapuh tertiup angin, aku melihat Nata sedang tertawa bersama seorang perempuan berparas cantik. Nata yang sedang menggenggam buku tebal, yang seperti nya salah satu materi kuliahnya. Mereka berdua terlihat bahagia, dan tanpa menoleh pun, Nata melewati perpustakaan ini begitu saja. Seakan hanya ada tanah kosong berisikan rerumputan liar.
“Mia. Dia itu teman kampus Nata, memang begitu, selalu mengikuti kemana Nata berada.” Ucap Risya, partner kerjaku di perpustakaan. Ia mendapati ku sedang melamun, ke arah Nata.
“Oh ya? Kok aku ngga pernah melihatnya, ya?”
“Dia memang ngga suka ke perpustakaan. Jelas, dia ngga suka membaca. Mungkin Nata sering kesini untuk melepas jengah, sepertinya, Na.”
“Jengah?” Aku bertanya, namun Risya sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Jengah?
Tuhan, Senja kami tak lagi sama. Aku dan Nata. Nata tertawa bersama perempuan lain. Mengapa ada sudut hati ini yang tak rela? Mengapa bukan aku saja yang membuat, Nata tertawa?”
***
Bulan demi bulan bergulir terlewati. Masa-masa sibuk di universitas pun berjalan lancar. Nata sempat mengajakku untuk makan siang di salah satu kantin di kampus. Ia sama sekali tak ingat, atau mungkin tak sadar saat aku melihatnya dengan Mia. Ah, cukup, sudahlah.
“Luna, kenapa kamu nggak menulis buku saja?” tanya nya seraya menyeruput habis es teh nya.
“Mmm, kenapa ya? Mungkin belum. Aku masih cinta menyelami kata demi kata yang diciptakan seorang penulis. Aku juga masih kuliah, mungkin saat aku berumah tangga nanti, aku akan bikin buku. Kalo kamu, Nat? Ah, paling kamu akan membuat novel tentang filosofi? Atau semacam ensiklopedia, mungkin? Hahaha...” Ucapku seraya memukul kecil bahunya lalu tertawa.
Nata hanya tersenyum masam, “Ya ngga mungkin tentang ensiklopedi juga seperti nya, Na. Kamu itu suka mengarang bebas ya. Ohiya, nanti aku perlu ke toko buku, ada mata kuliah yang harus aku lengkapi dengan buku itu, di perpustakaan referensinya kurang pas, mau ikut denganku, ya?” ajaknya manis. Sangat manis bagiku.
Aku mengangguk, menyembunyikan rasa semangatku agar tak terlalu meletup-letup.
“Iya, baiklah. Mie Ayam di depan kampus bisa jadi referensi balas budi untukku mungkin?” Aku tertawa jahil. Nata hanya menarik asal ujung rambutku. Lalu kami berdua pergi ke toko buku, berdua menikmati senja yang bergulir perlahan.
Senja yang indah, Tuhan. Sekelumut rindu itu sudah terbalas. Dengan sejumput perbincangan kami yang menurutku manis, apa adanya. Setiap inci diantara kami bagiku menjadi atmosfir yang indah, tak terlukiskan betapa rasa girangku hendak menyeruak meronta-ronta. Tuhan, Nata itu manis.”
***
Nata sering duduk berdua denganku mendengarkan lagu. Berdebat kata-kata siapa yang paling menarik diantara kedua penulis. Makan siang bersama menikmati semangkuk bakso. Nata yang kadang mengekor di belakangku hanya sekedar untuk mengagetkanku. Nata yang selalu setiap siang datang berkunjung ke perpustakaan, menjinakkan rindu-rindu deretan buku kegemarannya. Saling berbisik denganku saat ia kebingungan memilih buku filosofi apa yang akan ia pilih.
Namun, semuanya berubah. Drastis, sangat drastis.
Aku hadir di pemakamannya. Aku memang semu diantara kerabat dan keluarganya. Namun aku mendoakan yang terbaik untuk Nata. Agar Nata tahu, kenangan dan memori kita tak akan pernah luntur. Andai ada satu detik dimana aku bisa melihat senyummu, akan aku hentikan jarum jam itu, agar semua tetap pada detik itu. Memelukmu, menuai rindu yang tak pernah bertuan.
Kanker Jantung. Nata mengidap Kanker jantung. Nata, mengapa kau pergi begitu cepat? Aku hanya ingin kau berada di antara atmosfir dan senjaku selamanya. Aku tak pernah melihat tanda-tanda mu mengalami penyakit semenyakitkan itu. Hampir tidak pernah. Aku hanya ingin meronta dari realita yang perih ini. Hanya menyisakan sakit yang permanen tak dapat diganggu. Aku hanya menangis, menangis dan menangis.
Seminggu aku tergugu dari perginya Nata yang tiba-tiba, aku kembali membuka kotak surat rahasia ku. Ada yang aneh.
“Ini bukan tulisanku.” Ucapku lirih.
Lalu aku membaca isi surat tersebut.
Halo Luna, masih ingat tulisan ini? Maaf kalau aku lancang membuka kotak-mu, aku hanya melampiaskan rasa penasaranku ini saat melihatmu selalu pergi ke rak ujung bagian referensi dan kutemukan kotak disana. Maaf ya? Aku sudah membaca semua suratmu. Aku tahu, kalau kamu sudah baca ini, kamu akan sangat marah padaku, mungkin kamu akan lebih cerewet dan bawel dari biasanya. Namun tenanglah dulu, baca dan simak suratku ini baik-baik.
Aku masih ingat saat pertama melihatmu. Senyum-mu yang malu-malu namun begitu membuatku tergugah. Datang ke perpustakaan setiap siang hari hanya sebuah syarat agar aku dapat melihatmu. Ternyata, trik-ku ini tidak terbongkar ya? Atau mungkin sudah? Entahlah.
Aku selalu memperhatikan gerak-gerikmu. Kau itu lucu, mungil dan gerakmu lincah seperti anak tk. Aku sangat menyukainya dan terlebih lagi, kau itu sangat-sangat-manis. Aku sangat suka ketika duduk berdua untuk membaca bersamamu, menyaksikan buku-buku itu cemburu melihat kita. Aku sangat suka saat bercanda bersama mu, seakan 24 jam itu akan menjadi milik kita nanti, selamanya. Aku sangat suka saat kau telah mengoceh tentang senja, tentang mengapa aku selalu meminum kopi, padahal aku yakin, menurutmu kopi itu pahit, tidak enak. Kau tahu kan apa maksud dari semua pernyataanku ini?
Aku sayang kamu, Luna.
Sejak pertama kita bertatap, hingga aku mengenalmu dan Tuhan mengizinkanmu untuk mengisi hari-hariku. Sejarahku telah terukir namamu, untuk selalu ku simpan rapat-rapat dalam selebung ingatan bagahagia ku. Kau selalu mempunya tempat yang ter-istimewa dalam setiap sudut hatiku, ya, hanya kau Luna. Terima kasih. Terima Kasih. Semoga kau cepat membaca surat ini. Mungkin ini pengakuan terkonyol untuk kulakukan, namun, aku harap kau menyukainya. Aku tahu kamu suka puisi, jadi mungkin, ini bisa sedikit meredakannya. Ohiya, bunga mawar itu untukmu. Maaf hanya setangkai, simbol tak perlu banyak-banyak kan? Karena aku tak akan membuatmu khawatir, perasaanku lebih banyak tersiratkan daripada sebuah simbol.
Sekali lagi, Aku sayang kamu, Luna.
Nata”
Tetes demi tetes air mata mengalir menjadi deras. Nata, terima kasih. Aku juga sangat menyayangimu. Aku tak akan pernah menyesal telah mengenalmu, meskipun kau telah tiada. Kau itu sejarah, abadi dan selalu terkenang. Semua memori tentang kita tak akan menguap, karena memori tentangmu itu abadi, aku janji.
Aku yakin kau menulis surat ini sebelum kepergianmu. Dan bunga mawar itu... ah sungguh manis. Walaupun sudah layu, aku berjanji akan selalu menyimpannya.
“Nata, Aku juga sayang sama kamu. Baik-baik disana, aku akan terus mendoakanmu.” Kataku lirih, ditemani angin sore yang bertiup lembut. Terima kasih untuk suratnya, Nata. Surat dan mawar pertama dan terakhir darimu, dan tentu saja kau Nata, merupakan hal yang lebih manis, dari novel apapun yang pernah ku baca.
Nata dan gelas kopinya.
Nata dan Hujan.
Nata, diriku, deretan buku yang mengalun sendu.
Semuanya, terkenang.
—Luna.

Sumber cerita dari sahabat saya yang bernama Eveline Fauziyah yang pada awalnya untuk lomba, tapi tidak jadi.